Header Ads

  • Breaking News

    Recent Posts:

    Review Lazio Akhir Tahun : Lebih Baik dari Musim Lalu Berkat Simone Inzaghi

    Lazio merupakan salah satu tim papan atas serie A. Sepanjang setengah musim 2016-2017 ini, Lazio mampu bersaing dengan tim-tim kuat lainnya seperti Juventus, Roma, AC Milan dan Napoli. Saat ini Lazio berhasil menduduki peringkat ke-4 di Klasmen Sementara Serie-A. Pencapaian ini lebih baik daripada musim lalu dimana lazio hanya bisa finish di urutan ke-9 dalam setengah musim tahun sebelumnya.

    elang tim biru langit lazio

    Prestasi Pelatih Lazio di penghujung tahun 2016 ini Simone Inzaghi bisa dibilang lebih baik dari pendahulunya, Stefano Pioli. Padahal, sebelum kompetisi Serie A 2016/2017 bergulir, Lazio sempat memiliki masalah dalam persiapan tim. Pelatih asal Argentina, Marcelo Bielsa, yang awalnya ditunjuk sebagai allenatore Lazio memilih mundur dari jabatannya hanya dalam waktu dua hari setelah ia diperkenalkan kepada khalayak banyak. 

    Perlu diketahui, untuk mendatangkan mantan pelatih Olympique de Marseille ini, Lazio harus merogoh kocek cukup dalam. Sebesar € 2,5 juta atau sekitar Rp 37,5 miliar per musim Lazio membayar gaji Bielsa. Jumlah ini merupakan bayaran tertinggi yang pernah dikeluarkan Lazio untuk menggaji seorang pelatih. Dana sebesar itu belum termasuk membayar dua asisten Bielsa, yakni Diego Reyes dan Pablo Quiroga, yang masing-masing dibayar sebesar € 700.000.

    Lazio juga dihadang persoalan banyaknya pemain andalan musim lalu yang memilih pergi. Pemain senior seperti Miroslav Klose dan Stefano Mauri misalnya, mau tidak mau harus pensiun karena faktor usia. Padahal keduanya adalah pemain andalan dibeberapa musim terakhir. 

    Yang paling berat adalah hengkangnya Antonio Candreva ke klub rival, Inter Milan. Pemain yang paling dipuja laziale dalam beberapa waktu belakangan ini justru memilih pergi dengan alasan klasik, yakni ingin menjadi juara dalam setiap kompetisi. Tentunya kehilangan pemain berusia 29 tahun ini adalah sebuah ujian. Ia merupakan top skor klub musim lalu dengan total torehan 12 gol di semua ajang yang diikuti oleh Lazio. 

    "Saya memilih Inter Milan karena mereka klub bermental pemenang dan sangat ambisius. Sangat mudah ketika harus mengambil keputusan ini. Ketika sebuah klub besar menginginkan Anda, maka Anda hanya dapat mengatakan 'Ya'," kata Candreva.

    Namun pada akhirnya masalah-masalah kehilangan di awal musim mampu dilalui dan cenderung dilupakan. Dari segi pelatih,  kepergian Bielsa membuat Lazio mendapatkan Simone Inzaghi sebagai penggantinya. Lazio yang berada dikendali Simone justru tampil menawan. Kini, mereka hanya terpaut satu poin dari Napoli yang berada di posisi ketiga di klasemen sementara dan berpeluang besar menembus Liga Champions musim depan. 

    Selain itu, alih-alih publik akan mengenang kepergian pemain bintang secara berkepanjangan, terutama soal kepergian Candreva. Simone justru menghapus keraguan publik dan berhasil mengorbitkan idola baru. 

    Felipe Anderson sukses mengantikan peran central Candreva di Lazio. Anderson berhasil menyumbangkan 2 gol dan 7 assist hingga pekan ke-18 ini. 

    Selain itu, Lazio juga memiliki mesin gol baru, Ciro Immobile. Penebusan mahar sebesar €8,5 juta dari Sevilla di awal musim pun mampu dibalas dengan gelontoran gol demi gol oleh Ciro Immobile yang kini sudah berhasil mencetak 9 gol dari 18 pertandingannya sekaligus menjadi top skor sementara bagi Lazio. Dengan keberadaan kedua pemain di atas, sosok Candreva pun pada akhirnya lambat laun pastinya akan mulai dilupakan.

    Belum lagi nama-nama seperti Stefan De Vrij, Sergej Milinkovic-Savic, dan Keita Baldé Diao yang tampil brilian sejauh ini. Nama terakhir bahkan saat ini tengah dirayu manajemen klub agar mau memperpanjang kontraknya di Lazio—karena mulai diincar klub-klub papan atas Eropa.

    Hanya saja, Lazio masih memiliki permasalahan saat harus bertanding melawan klub-klub besar. Mereka memang terlihat sangat perkasa saat melawan klub-klub yang di atas kertas memiliki kualitas pemain di bawah mereka. Namun mereka sepertinya masih belum memiliki mental yang cukup baik saat harus melawan klub-klub yang memiliki kualitas lebih lebih baik.

    Hingga pekan ke-18 ini, saat melawan klub-klub dengan peringkat 8 besar saat ini, hanya melawan Atalanta, Napoli, dan Torino Lazio tidak mengalami kekalahan. Lazio berhasil menang melawan Atalanta dan bermain imbang melawan Napoli dan Torino. Sementara sisanya, hasil pertandingan serie A melawan Juventus, AS Roma, AC Milan, dan Inter Milan, Lazio harus menderita kekalahan. Bahkan mereka harus kalah tanpa bisa mencetak satu pun gol melawan klub-klub besar Serie A tersebut.

    Hal inilah yang mungkin menjadi Simone Inzaghi di tahun 2017 nanti. Secara kualitas mereka memiliki pemain-pemain yang mampu bersaing dengan klub-klub besar lainnya. Namun keperkasaan pemain-pemain Lazio saat melawan klub-klub di bawahnya seolah-olah hilang saat harus melawan klub-klub besar.

    Simone Inzaghi harus bisa mencari solusi dari permasalahan ini jika ingin membawa Lazio mampu bersaing dalam perebutan gelar juara Serie A musim ini. Atau setidaknya agar mereka mampu masuk ke jajaran klub yang mewakili Serie A di kompetisi Eropa musim depan.

    Tidak ada komentar

    loading...